Narasi

 Awan yang Menunda Hujan

     Aku bukan awan biasa. Sejak lama aku menggantung di langit wilayah yang nyaris tak pernah hujan. Dari atas sini, aku melihat bumi perlahan kehilangan harapannya. Sungai menyempit, tanah merekah seperti luka yang dibiarkan terbuka, dan angin membawa debu ke mana-mana.

     Aku menyimpan air banyak sekali. Setiap butirnya lahir dari penguapan laut dan danau, dikumpulkan dengan susah payah. Tugasku jelas, menurunkan hujan. Namun langit tak selalu adil pada tugas-tugas sederhana itu.
“Belum waktunya,” kata langit.


     Aku protes dalam diam. Aku melihat petani yang duduk lama di tepi sawahnya, menatap kosong tanah yang seharusnya hijau. Aku melihat hewan yang mencari-cari genangan air. Aku tahu, jika aku menunggu terlalu lama, air yang kusimpan bisa hilang terbawa angin.


     Aku mulai berat. Bukan karena air, melainkan karena pilihan. Jika aku memaksa menurunkan hujan sekarang, bencana bisa terjadi. Angin masih terlalu kencang, petir belum bisa dikendalikan. Hujan yang seharusnya membawa kehidupan bisa berubah menjadi bencana. Namun jika aku terus menunggu, kekeringan akan semakin parah.


     Hari-hari berlalu. Matahari terasa lebih kejam dari biasanya. Ia memanaskanku tanpa henti, mencoba merenggut air yang kusimpan. Sebagian dariku mulai menguap kembali. Aku panik, aku takut gagal menjalankan tugasku.
Suatu malam, aku mendengar tangisan dari bawah. Bukan suara, tetapi perasaan bumi seolah-olah memanggilku. Retakannya semakin lebar, pohon-pohon mulai merunduk, dan harapan manusia mulai menipis. Aku goyah. “Apa guna aku jika harus melihat semuanya hancur?” bisikku.


     Angin mendekat, kali ini tidak berisik. Ia berputar perlahan di sekitarku, menenangkanku. “Bersabarlah sedikit lagi,” katanya. “Jika kau jatuh sekarang, kau akan menyakiti yang ingin kau selamatkan.” Aku bertahan. Dengan sisa kekuatan, aku melawan panas matahari, melindungi air yang tersisa. Aku hampir pecah oleh tekanan antara keinginan menolong dan ketakutan mencelakai.


     Lalu, suatu pagi angin berubah. Ia mulai mereda. Udara menjadi dingin, langit menatapku dan berkata dengan suara yang dalam, “Sekarang!” Tanpa ragu lagi, aku melepaskan diriku. Air yang kusimpan jatuh sebagai hujan, bukan deras, bukan pula kasar. Ia turun perlahan, merata, menyentuh bumi dengan lembut. Tanah menyerapnya seperti dahaga yang akhirnya terpuaskan. Retakan menutup, daun-daun terangkat, dan udara kembali hidup. Aku merasa ringan, lelah, tetapi utuh.


     Saat hujan selesai, aku tinggal sebagai sisa kabut tipis. Tugasku hampir selesai. Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa menunggu bukan berarti diam tanpa keberanian. Kadang, konflik terbesar adalah memilih waktu yang tepat, ketika dunia membutuhkan kita untuk segera bertindak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Pantun

Naskah drama dari cerpen "Belis Si Mas Kawin"